Tersebutlah sepasang suami istri petani yang hidup dengan serba kekurangan.
Mereka hanya tinggal berdua di sebuah rumah gubuk beralaskan tanah yang sudah tua.
Kehidupan mereka sangatlah menderita.
Sawah yang mereka miliki belum juga membuahkan hasil.
Sekalipun musim panen, panen yang mereka dapat tidak cukup baik bahkan kerap kali gagal.
Keadaan ekonomi yang tidak membaik menyebabkan mereka terpaksa harus berhutang dengan tetangga yang kian lama semakin bertambah.
Sang suami dengan sabar selalu mengingatkan pada sang istri bahwa kelak kehidupan mereka akan lebih baik.
Setiap dirundung masalah sang suami selalu menyempatkan diri untuk membaca Bhagawad Gita, yang mengajarkan tentang janji Tuhan.
Bahwa Tuhan tidak akan pernah mengingkari janjinya terhadap umatnya yang selalu ingat dan taat padaNya.
Maka setiap sore sang suami selalu membaca dan memahami isi dari buku tersebut sambil memohon kepada Tuhan agar ia dan istrinya diberikan kehidupan yang lebih layak dan tercukupi.
Musim panen yang telah lama dinanti pun tiba.
Sang suami dengan gembira sejak pagi hari telah berangkat ke sawah untuk memanen hasil sawahnya.
Ia sangat berharap hasil panen kali ini tidak gagal seperti panen yang lalu.
Ia sangat yakin bahwa Tuhan akan menepati janjinya di pagi itu.
Setibanya ia di sawah, sang suami sangat kaget dengan kondisi sawahnya.
Rupanya, malam sebelumnya sawahnya diserbu oleh hewan liar.
Seluruh sawah dan hasil panennya telah porak poranda, rusak bahkan tidak bersisa
Dengan wajah merah padam sang suami pulang ke rumah.
Sang istri heran melihat suaminya nampak begitu marah.
Tidak banyak berpikir lagi, sang suami mengambil buku Bhagawad Gita yang sering dibacanya itu.
Dengan murka ia mencabik-cabik bagian belakang buku tersebut hingga rusak.
Ia merasa telah sia-sia memohon kepada Tuhan dengan segala ketaatannya.
Toh hasil panennya tidak berubah dengan yang terdahulu, bahkan lebih parah.
Sang suami lupa dan tidak peduli lagi dengan janji Tuhan yang pernah ia yakini. Ia beranggapan semua itu tidaklah nyata.
Setelah itu sang suami keluar dari rumah meninggalkan istrinya seorang diri.
Tidak lama setelah sang suami pergi, seorang pria tua mendatangi rumah petani tersebut.
Pria tua itu datang membawa berkarung-karung beras, baju, uang, emas, dan segala keperluan yang dibutuhkan sang petani dan istrinya.
Sang istri heran melihat pria tua itu.
Bagaimana mungkin seorang tua dapat membawa barang-barang sebanyak itu bahkan dalam kondisi punggungnya terluka penuh darah.
Lalu sang istri menanyakan pada pria tua itu dari siapakah barang-barang itu berasal.
Sebelum pergi, pria tua tersebut menjawab bahwa barang-barang itu berasal dari permintaan sang suami kepada Tuhan agar kehidupan petani dan istrinya itu menjadi lebih layak.
Sang istri kaget tidak percaya.
Terlebih lagi atas perbuatan yang telah suaminya lakukan terhadap buku yang selama ini ajarannya ia yakini tersebut.
Bahwa semua itu benar adanya.
Tidak lama kemudian sang suami pulang dan terperanjat dengan apa yang ia lihat.
Segala apa yang pernah ia pinta ada di depan matanya.
Sang istri menceritakan tentang pria tua yang mengantarkan barang-barang tadi.
Sang suami menangis dan menyesali perbuatannya.
Bahwa seharusnya ia lebih bersabar dan tidak kehilangan keyakinan akan janji-janji Tuhan.
Cerita ini diceritakan oleh pembina agama Hindu saat saya duduk di kelas 1 SMA, Bapak Gojanarka.
Beliau tidak pernah bosan mengingatkan tentang makna dari cerita ini kepada kami.
Bahwa Tuhan itu selalu ada untuk umatNya. Tuhan tidak pernah mengingkari janji-janjiNya terhadap umat yang selalu ingat dan taat padaNya.
Bersabar dan tetaplah yakin bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi, Tuhan tidak akan kemana. Ia akan selalu memberikan perlindungan dan memberikan jalan yang terbaik bagi setiap umatNya.
Saya ingat setelah Beliau (Pak Goja) selesai bercerita, saya diminta untuk mebacakan sebuah sloka yang selalu saya ingat sampai sekarang, terkait dengan cerita ini.
Sloka ini, dan beberapa sloka lainnya, beberapa kali saya bawakan setiap Beliau mengadakan persembahyangan bersama dan pekemitan juga pembelajaran di kelas.
Sloka ini diambil dari Bhagawad Gita IX.22
"Ananyas cintayanto mām
Ye janāh paryupāsate
Tesām nityābhiyuktānām
yogaksemam wahāmy aham"
artinya :
"Mereka yang memuja Aku sendiri
merenungkan Aku selalu, kepada mereka
Ku-bawakan segala apa yang mereka tidak punya
dan Ku-lindungi segala apa yang mereka miliki"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar